REVIEW: Katarsis oleh Anastasia Aemilia

Judul : Katarsis
Penulis : Anastasia Aemilia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2019
Jumlah Halaman : 272 halaman

Novel ini sebenarnya terbit pada tahun 2013. Kemudian di tahun 2019, novel ini dicetak ulang dengan desain sampul baru yang sarat akan makna dan sangat artistik. Selain mendapatkan sampul baru, novel ini juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul Catharsis.

Tara Johandi ditemukan dalam posisi tidak wajar di dalam kotak perkakas kayu. Sedangkan anggota keluarganya tewas mengenaskan. Penyelidikan pun dilakukan dengan bantuan seorang psikiater. Akan tetapi, hal itu justru menambah panjang daftar pertanyaan seputar kasus mengerikan ini dan mengusik masa lalu Tara. 

Ide cerita yang ditawarkan oleh Anastasia Aemilia terbilang menarik, khususnya di kalangan penulis Indonesia. Dengan mengusung tema psychological thriller, novel ini cukup berhasil membuat emosi saya terombang-ambing. Narasi di dalam novel disampaikan dengan sudut pandang orang pertama yang mampu membuat saya merasakan gejolak emosi para tokoh. Novel ini memiliki penggambaran yang terasa nyata dan mampu membuat saya merasa nyeri. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai isi novel, ada baiknya membaca sinopsis yang dilampirkan di sisi belakang buku.

Pembaca diajak untuk menyelami pikiran para tokoh melalui novel setebal 272 halaman ini. Di dalamnya terdapat petunjuk serta jawaban terkait kasus sadis yang dialami oleh keluarga Johandi. Ceritanya dibagi ke dalam tujuh bagian. Setiap bagian memiliki judul tersendiri yang menggambarkan kejadian di dalamnya. Pada dua bagian pertama, saya diajak untuk menyaksikan masa lalu Tara dan keluarga Johandi. Sepertiga dari rasa penasaran saya terjawab di bagian ini. Bagian ketiga dan keempat menceritakan kehidupan para tokoh di masa sekarang serta memperkenalkan sosok Ello melalui narasi yang didominasi olehnya. Di bagian ini pula saya mulai memiliki beberapa kecurigaan terkait kasus pembunuhan keluarga Johandi. Semua kecurigaan saya akhirnya menemui titik terang berkat kisah yang tertuang dalam tiga bagian terakhir novel ini. 

Pembagian cerita tersebut cukup memudahkan saya untuk menebak kelanjutan cerita. Akan tetapi, minimnya penanda waktu pada bab-bab awal membuat saya sedikit kesulitan menyusun potongan-potongan cerita. Hal ini juga turut memengaruhi alur cerita dan tidak jarang membuat ceritanya terkesan tidak berurutan. Untungnya ketika memasuki pertengahan cerita, peralihan antara satu narasi dengan narasi lainnya menjadi lebih mudah diikuti dan terjalin dengan rapi. Narasi dari halaman 257 hingga epilog adalah bagian kesukaan saya. Bagian akhir dari misteri yang menyelimuti keluarga Johandi ini sukses membuat saya cemas. Penulis dengan mahir merangkai kalimat yang berhasil menggiring kecurigaan saya ke arah yang diinginkan penulis.

Selain penuturan kisah dengan sudut pandang orang pertama, penokohan di dalam kisah ini juga menarik. Semua tokoh utamanya digambarkan memiliki penampilan fisik yang mengundang decak kagum dari orang di sekitarnya. Meski demikian, setiap tokohnya memiliki “luka” yang menjadikannya rapuh dan terkesan manusiawi. Narasi yang disampaikan dengan sudut pandang orang pertama sangat membantu saya dalam memahami karakter masing-masing tokoh. Saking detailnya penggambaran yang disajikan, saya sempat merasa kesal dengan tindak tanduk masing-masing tokoh. Namun kekesalan saya berganti menjadi kengerian seiring terkuaknya misteri yang menyelimuti kasus pembunuhan keluarga Johandi. Meski Tara adalah pusat dari kisah ini, saya pribadi merasa karakter Tara kurang berkesan. Saya justru terkesan dengan karakter Ello—teman masa kecil Tara. Namun mendekati akhir cerita, karakter Tara semakin menguat dan cukup berhasil membuat saya bergidik.

Karakter Tara dan Ello, serta keterlibatan Alfons sebagai psikiater Tara, membuat saya menduga bahwa topik yang menjadi sorotan utama dalam kisah ini adalah gangguan emosional. Dugaan saya bersumber dari narasi para tokoh yang dengan jelas menunjukkan adanya ketidakstabilan emosi. Ditambah lagi pemilihan judul novel, yaitu Katarsis. Istilah katarsis dalam bidang psikologi berarti cara pengobatan bagi orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas. Sedangkan dalam bidang sastra, kata ini merujuk pada kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis. Kedua definisi tersebut memliki kaitan yang erat dengan keadaan emosional seseorang. Selain itu, adanya seorang psikiater yang terlibat semakin menguatkan presumsi saya.

Jika memang hal tersebut yang menjadi sorotan penulis, maka saya merasa novel ini berhasil memberikan gambaran mengenai bahaya gangguan emosional. Walaupun sudah mendapatkan penanganan dari ahli (psikiater), orang dengan gangguan emosional tetap menjadi ancaman. Di dalam novel juga digambarkan bahwa orang dengan gangguan emosional pandai memanipulasi dan menampakkan bahwa dirinya baik-baik saja. Ditambah lagi, para tokoh di dalam cerita digambarkan memiliki emosi yang meletup-letup dan tidak terduga. Hal ini tentu saja menambah kemungkinan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh orang dengan gangguan emosional. Namun ini masih sebatas presumsi saya. Akan tetapi saya merasa dengan membaca kisah ini, kewaspadaan dan kepedulian saya mengenai kondisi emosi seseorang bisa membaik.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, Katarsis bisa dijadikan pilihan bacaan di kala senggang. Meskipun tema yang diusung terdengar serius, narasi di dalamnya disampaikan dalam bab-bab pendek yang membantu menjaga konsentrasi pembaca. Selain itu, melalui novel ini kita diajak untuk mengintip dunia para pelaku kejahatan dan menyelami isi pikiran mereka. Saya rasa ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, terutama bagi pencinta tema psychological thriller.

Terdapat beberapa kutipan dari novel ini yang saya suka, yaitu:

Manusia, pada dasarnya, memiliki dua sisi. Tak ada yang dilahirkan bak malaikat suci. Seperti DNA, kedua sisi itu mengalir dalam darahmu, dan tak bisa kaupisahkan apalagi kauhilangkan dengan ramuan obat atau jampi-jampi apa pun.—Halaman 75

Kalau kau benar-benar percaya pada sesuatu, tak ada yang tak mungkin terjadi. Kalau kau percaya masalahmu itu tak bisa diselesaikan, selamanya akan seperti itu. —Halaman 154

Secara keseluruhan novel ini memenuhi premis yang ditawarkan dalam sinopsisnya. Unsur misteri, kriminal, dan psikologi yang kental mampu memberikan angin segar bagi dunia penulisan Indonesia. Jika kalian ingin mulai menjajal tema psychological thriller, Katarsis bisa dijadikan pilihan.

Sekian kesan saya setelah membaca novel Katarsis karya Anastasia Aemilia. Sampai jumpa di ulasan berikutnya. 💜

4 thoughts on “REVIEW: Katarsis oleh Anastasia Aemilia

  1. ah iya, begitu tahu bahwa Katarsis muncul lagi dengan cover baru, saya sempet mikir, ini Katarsis yang dulu ataukah penulis menulis buku baru lagi.
    Saya baca Katarsis sekitar tahun 2013, dan itu jadi salah satu buku favorit saya. Narasinya apik dan elegan. Suka sekali.
    Berharap penulis mengeluarkan buku baru dengan genre seperti ini

    Like

    1. Saya terlambat tahu tentang Katarsis. Padahal ide ceritanya menarik dan benar, narasinya apik terutama mendekati bagian akhir novel. Semoga penulis bisa menerbitkan judul baru yang tidak kalah menegangkan.

      Terima kasih sudah mampir dan membaca 😊

      Like

  2. Wah, ulasannya komplit sekali. Saya jadi penasaran dan ingin membacanya juga. Sepertinya, bagi penikmat cerita menegangkan, ini bisa menjadi salah satu pilihan bacaan ^^

    Like

    1. Wah, terima kasih 😳
      Saya sangat suka ide ceritanya, makanya saya berusaha menarik banyak orang untuk membacanya. Kalau sudah baca, boleh dibagi pendapatnya dengan saya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.